Anda mungkin sudah familiar dengan istilah patah tulang. Tapi apakah anda pernah mendengar penis patah? Meskipun penis tidak memiliki jaringan tulang, anggota tubuh yang satu ini bisa mengalamai “patah”.

Patah adalah kondisi dimana tidak ada kesinambungan atau tidak tersambung, dan dalam dunia medis, istilah patah biasa digunakan pada tulang. Meskipun demikian, anggota tubuh yang tidak memiliki tulang juga bisa mengalami patah. Tidak terkecuali penis kita. Lalu bagaimana bisa penis patah?

Anatomi Penis Pria

Penis sendiri adalah jaringan erektil yang terdiri dari dua buah kavernosum (batang penis) di sebelah kiri dan kanan, serta di bawah korpus terdapat Korpus Spongiosum (sebuah rongga yang terdapat di bawah korpus kavernosa yang mengelilingi uretra).

Dua korpus kavernosum tersebut diselimuti oleh tunika albuginea, yaitu kapsula padat yang terdiri dari jaringan ikat padat yang tidak beraturan. Tunika albuginea berperan penting terhadap terjadinya ereksi.

Saat ereksi, batang penis akan memanjang dan mengembang degan keras. Hal ini terjadi karena darah mengisi penuh korpus kavernosum.

Cidera sangat jarang terjadi pada penis dalam keadaan lemas (tidak ereksi). Hal ini karena pada kondisi ini penis mempunyai mobiltas dan fleksibilitas yang baik. Namun pada saat ereksi, penis menjadi tegang dan karenanya mobilitas dan fleksibilitasnya berkurang. Pada saat ereksi tunika albuginea akan menipis, kaku dan kehilangan elastisitasnya.

Tanda dan Gejala Penis Patah

Jika ada pergerakan secara kasar dan mendadak pada saat penis ereksi (misal pada saat penetrasi), dan penis tertekuk dengan kasar maka bisa mengakibatkan robekan pada tunika albuginea. Kejadian ini juga bisa mengakibatkan cidera pada korpus kavernosum di bawahnya.

Akibatnya bisa muncul sobekan (laserasi) penis dan cidera uretra. Kondisi inilah yang sering disebut dengan penis patah, karena bisa mengakibatkan bentuk penis bengkok.

Kejadian yang sering terjadi adalah pada saat penetrasi, saat penis yang tegang tiba-tiba keluar dari vagina dan menabrak perineum atau tulang pubis. Bahkan 95% kejadian penis patah terjadi saat melakukan hubungan seksual.

Bukan hanya itu saja, penis patah juga bisa terjadi saat bermasturbasi. Manipulasi seksual pada penis saat merangsang dengan tangan dengan gerakan kocokan yang terlalu kasar juga bisa mengakibatkan penis patah.

Meskipun jarang terjadi, penis patah juga bisa terjadi pada orang yang tidur tengkurap pada saat penis ereksi. Atau berpakaian dengan terburu-buru pada saat penis sedang ereksi, dan kejadian-kejadian lainnya.

Pada saat penis patah, akan terdengar suara seperti letupan, meletus, menjentik atau suara retakan. 80% orang yang mengalami penis patah mengaku mendengar suara saat kejadian.

Pada saat penis patah, yang tadinya tegang dan kaku tiba-tiba menjadi lemas dan terkulai. Diikuti dengan rasa nyeri pada penis, dari mulai yang ringan hingga yang berat. Rasa nyeri tersebut tergantung dari keparahan cidera.

Bentuk penis seperti terong

Beberapa kasus penis patah membuat bentuk penis menjadi seperti terong. Yaitu bengkok, bengkak dan berwarna kebiruan, Sehingga menyerupai teron.

Sering kali lengkungan penis membentuk huruf “S” jika patah pada dua sisi, ada sebagian kecil juga yang membentuk huruf “C”. Pada kasus tertentu juga terdapat darah pada lubang penis apabila terjadi kerusakan pada uretra.

Memar juga bisa muncul pada periuem (daerah antara lubang anus / dubur), skrotum (kantung buah zakar) dan bagian bawah pada perut.

Harus segera ditangani

Jika anda mengalamai penis patah, segeralah periksa diri ke dokter. Karena penis patah adalah keadaan emergensi / darurat dalam bidang urologi, hal ini karena berpotensi memberikan efek negatif terhadap kemampuan seksual dan berkemih secara permanen.

Pada pertolongan pertama, anda bisa melakukannnya sendiri sembari perjalanan menuju ke dokter. Yang harus anda lakukan pertama kali adalah mengompres dingin (bisa dengan es yang dibungkus kain) pada batang penis yang patah. Hal ini agar mengurangi pembengkakan.

Anda juga bisa mengkonsumsi obat anti radang agar mengurangi rasa nyeri dan pembengkakan lebih parah. Namun perlu diingat, ini hanya pertolongan pertama pada saat kejadian penis patah. Anda harus tetap segera menemui dokter untuk mendapatkan perawatan medis dengan segera. Semakin cepat anda ditangani, maka kemungkinan sembuh total akan semakin besar.

Demikian, semoga bermanfaat!

Savira Safitri

Lulus sebagai Dokter Umum pada tahun 2002 dari Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta. Dan menjadi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin pada tahun 2009 dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar.